Produktivitas Jadi Kunci Akselerasi Ekonomi 8 Persen

Pemerintah menjadikan peningkatan produktivitas sebagai fondasi utama mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun ke depan, melalui reformasi SDM, investasi infrastruktur, dan digitalisasi sektor unggulan.

Strategi Produktivitas Inti

Fokus utama pada upskilling tenaga kerja agar keluar dari jebakan middle income trap, dengan investasi Rp13.000 triliun (USD800 miliar) hingga 2029 via Danantara—bukan mimpi kosong, tapi butuh eksekusi presisi.
Di Jawa11, narasi ini relevan mengingat produktivitas buruh Indonesia stagnan di US$13/jam vs Vietnam US$8 tapi tumbuh dua kali lipat; kritik: target 8% terlalu ambisius saat proyeksi realistis Kemenkeu hanya 5,2-5,8%.
Rosan Roeslani tekankan kualitas lapangan kerja, bukan kuantitas; konsumsi rumah tangga 5,5%, investasi 6%, ekspor 7% jadi pilar, walau BI dan Bappenas beda proyeksi (5,4% vs 5,8-6,3%).

Hambatan Struktural

Rendahnya produktivitas akar dari pendidikan vokasi lemah (hanya 20% relevan industri), birokrasi investasi lambat, dan dominasi UMKM informal (60% PDB tapi produktivitas 1/5 perusahaan besar).
Prabowo optimis via CNA Summit 2026, tapi analis sebut 8% “relatively impossible” tanpa gebrakan deregulasi radikal—lihat Q1-2025 tumbuh jeblok di bawah 5% akibat defisit fiskal membengkak.
Kritik konstruktif: tanpa metrik terukur seperti labor productivity index tahunan, retorika ini rawan jadi slogan kampanye pasca-revisi APBN 2025 dari 5,2% ke 4,7%.

Prospek dan Risiko Jangka Pendek

Sukses tergantung sinergi hilirisasi nikel, IKN efektif, dan AI adopsi cepat; potensi tambah 2-3% growth jika ekspor non-migas naik 10% YoY.
Tanpa reformasi hak cipta dan R&D 2% APBN, ambisi ini mirip janji 1990an era Soeharto yang mandek korupsi; prioritas: saingi Vietnam-Thailand via ease of doing business top-30 global.
Momentum 2026 krusial, tapi overshooting target justru picu inflasi tak terkendali.

Pantau proyeksi ekonomi dunia di CNN atau kembali ke Beranda.